Friday, May 3

Bayi Kembar Lahir Berjarak 87 Hari Pecahkan Rekor Dunia





Biasanya bayi kembar dilahirkan hampir bebarengan. Namun ada sebuah kasus unik yang terjadi di Irlandia. Seorang ibu melahirkan bayi kembar dengan jarak yang terpaut amat jauh, yaitu 87 hari. Saking jauhnya, kelahiran bayi kembar ini berhak meraih rekor dunia.

Amy dan Katie adalah 2 bersaudara kembar pasangan Maria Jones Elliot dan Chris Elliot. Awalnya Maria sempat khawatir salah satu dari si kembar di dalam rahimnya tidak akan selamat karena dilahirkan secara prematur. Air ketuban Maria sudah pecah saat kehamilannya baru berusia 23 minggu.

"Para dokter mengatakan kepada saya hanya ada sedikit harapan mereka bisa bertahan karena mereka begitu prematur," kata Maria seperti dilansir Daily Mirror, Rabu (12/5/2013).

Menurut dokter di Rumah Sakit Regional Waterford yang membantu persalinan, Dr Eddie O'Donnell, kasus kelahiran kembar yang dialami Maria ini sangat langka. Yang mengkhawatirkan, besar kemungkinannya kedua bersaudara kembar ini justru mengalami keguguran.

Dengan peluang yang kecil, Amy berhasil dilahirkan dengan selamat pada tanggal 1 Juni 2012. Karena dilahirkan secara prematur, berat badannya tidak sampai 0,45 kg, amat kecil jika dibandingkan berat lahir bayi normal yang rata-rata mencapai 2,5 kg. Sedangkan saudaranya, Katie, masih menunggu di dalam perut ibu untuk dilahirkan.

"Amy berjuang untuk hidupnya di dalam inkubator dan Katie sedang berjuang untuk bertahan hidup dalam rahim saya. Setelah beberapa jam, Chris dan saya berkata, 'Sudah cukup. Biarkan alam mengambil jalannya.' Ini adalah 3 bulan yang paling sulit dari kehidupan kami," kenang Maria.

Selang 87 hari kemudian, Maria diinduksi kedua kalinya untuk melahirkan pada 27 Agustus. Saat itu usia kehamilannya sudah mencapai 36 minggu. Setelah berjuang selama sekitar 1 jam, saudari kembar Amy pun berhasil dilahirkan dengan selamat.

"Untuk bayi bertahan hidup yang dilahirkan pada usia kehamilan 23 minggu, ini adalah prestasi besar dari sudut pandang setiap orang. Untuk bayi kembar yang dilahirkan saat usia kehamilan 23 minggu dan bertahan hidup, prestasinya bahkan lebih besar karena bayi kembar sering berperilaku lebih prematur daripada bayi tunggal," kata dr Sam Coulter Smith, kepala Rumah Sakit Rotunda di Dublin.

Smith memberikan pujiannya kepada tim dokter yang menangani persalinan Amy dan Katie karena mampu berpikir kritis saat menghadapi kondisi yang tidak familiar. Kabar mengenai kelahiran 2 bayi kembar yang berjarak 87 hari ini bahkan menarik perhatian Guiness World Record.

Juru bicara Guinness World Records membenarkan bahwa Maria dan suaminya telah melakukan kontak dengan Guinness World Records. Jika klaimnya mengenai kelahiran si kembar yang berjarak 87 hari disahkan, maka Maria akan memecahkan rekor dunia atas jarak kelahiran kembar terlama.

Sebelumnya, pemegang rekor dunia untuk jarak kelahiran kembar terlama adalah seorang ibu asal Pennsylvania bernama Peggy Lynn. Dengan jarak kelahiran hingga 84 hari, Peggy melahirkan anak kembarnya bernama Hanna dan Eric pada tahun 1995 dan 1996.





SUMBER

Gadis Cilik Ini Terlahir Tanpa Tenggorokan






Seorang gadis cilik terlahir tanpa tenggorokan. Alhasil, hingga berusia 2 tahun ia belum bisa bernapas, makan, minum dan menelan sendiri bila tidak dibantu dengan alat.

Hannah Warren belum mampu bernapas, makan, minum atau menelan sendiri sejak ia lahir di Korea Selatan pada tahun 2010. Putri Lee Young-mi dan Darryl Warren ini terlahir tanpa organ tenggorokan.

Hannah kesulitan bernapas saat lahir dan dokter Korea segera menemukan bahwa ia tidak memiliki tenggorokan. Ia telah menghabiskan seluruh hidupnya di sebuah rumah sakit di Seoul. Dokter mengatakan Hannah tidak punya harapan hidup lagi.

Beruntung, dokter menumbuhkan tenggorokan dengan stem-cell atau sel induknya sendiri dalam operasi 9 April 2013 lalu di sebuah rumah sakit Amerika Serikat. Hannah merupakan pasien termuda di dunia yang mendapatkan manfaat dari pengobatan eksperimental stem-cell.

Sel-sel induk berasal dari sumsum tulang Hannah, diekstraksi dengan jarum khusus yang dimasukkan ke dalam tulang pinggulnya. Butuh kurang dari seminggu untuk sel induk berkembang biak dan membuat tenggorokan baru. Tenggorokan baru berukuran 8 cm tersebut akhirnya ditransplantasikan pada 9 April lalu dalam prosedur operasi selama 9 jam.

Tanda-tanda awal menunjukkan tenggorokan bekerja dengan baik, meskipun dia masih harus menggunakan ventilator. Dokter percaya dia akhirnya akan dapat tinggal di rumah dan menjalani kehidupan yang normal.

"Kami merasa dia seperti terlahir kembali. Mereka berharap dia bisa melakukan segala sesuatu yang dilakukan anak normal lain, tapi itu akan memakan waktu. Ini adalah satu-satunya kesempatan, tapi ini fantastis dan salah satu yang luar biasa," jelas Darryl Warren, ayah Hannah, seperti dilansir news.com.au, Rabu (1/5/2013).

Hanya sekitar satu dari 50.000 anak di seluruh dunia yang lahir dengan cacat yang sama. Teknik stem-cell telah digunakan untuk membuat bagian tubuh lain selain batang tenggorok, dan menjanjikan untuk pengobatan cacat lahir dan penyakit anak lainnya.





SUMBER

Pasien Jadi Susah Ngomong Karena Dokter Bedah Keliru Bongkar Otak




Seorang ahli bedah di AS keliru mengoperasi salah satu bagian otak pasiennya. Akibatnya si pasien mengalami kesulitan berbicara. Walau beberapa hari kemudian bagian otak yang bermasalah akhirnya dioperasi, dokter ceroboh tersebut tetap diperkarakan oleh pasiennya.

Pasien bernama Regina Turner (53 tahun) dijadwalkan menjalani kraniotomi atau tindakan membuka tulang kepala dengan tujuan membedah otaknya pada tanggal 4 April lalu. Operasi tersebut dilakukan di St Clare Health Center di Fenton, Missouri.

Seharusnya tengkorak yang dioperasi adalah bagian kiri. Namun yang terjadi justru sebaliknya, bagian kanan tengkorak yang di buka lalu dibedah. Akibat kesalahan tersebut, ucapan Regina kini jadi sulit dimengerti. Dia lantas mengajukan gugatan kepada St Clare Health Center dan ahli bedah saraf yang menanganinya dengan tuduhan malpraktik.

Pengacaranya yang bernama Alvin Wolff Jr menjelaskan bahwa petugas medis memang menyadari telah melakukan kesalahan. Maka Regina menjalani operasi kedua pada bagian otak yang bermasalah 6 hari setelahnya.

"Sebelum menjalani operasi yang salah, penggugat cukup mobile, sadar dan mampu merawat dirinya sendiri. Setelah operasi yang salah, dia membutuhkan perawatan setiap saat untuk kebutuhan dasarnya. Dia juga menderita gangguan emosi, kecemasan dan depresi," kata pengacaranya seperti dilansir St. Louis Post-Dispatch, Rabu (1/5/2013).

Dokter bedah yang mengoperasi Regina diketahui bernama Dr Armond Levy. Menurut situs St Clare, Levy adalah seorang ahli bedah saraf bersertifikat. Ia menerima gelar medis dari Washington University School of Medicine di St Louis dan pernah menjalani residensi bedah saraf di St Louis University School of Medicine.

Wolff menjelaskan, kesehatan kliennya mulai terganggu sejak 5 tahun lalu akibat serangkaian mini stroke. Kemampuan bicaranya memang menurun, tapi masih bisa dipahami oleh keluarganya sebelum menjalani operasi. Operasi kraniotomi yang dijalani Regina sendiri bertujuan untuk mencegah terjadinya stroke di masa depan.

"Kami berkomitmen untuk keselamatan pasien dan perawatan kesehatan berkualitas tinggi. Jika kesalahan medis memang terjadi, kami menganggapnya amat serius. Kami menyelidiki secara menyeluruh untuk melihat proses apa yang bisa diubah untuk mencegah hal itu terjadi lagi dan kemudian kami melakukan perubahan segera," kata Bill Hoefer, presiden St Clare Health Center.




SUMBER